Prakarsa Infrastruktur Indonesia adalah proyek yang didanai oleh pemerintah Australia melalui AusAID. Proyek ini bertujuan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi melalui kerjasama dengan Pemerintah Indonesia untuk meningkatkan kebijakan, perencanaan dan investasi di bidang infrastruktur. Pada fase awal IndII dibentuk untuk periode tiga tahun yang telah berakhir pada bulan Juni 2011. Fase lanjutan proyek ini tengah berlangsung dan akan beroperasi hingga bulan Juni 2015. Fokus kegiatan IndII meliputi air minum dan sanitasi, transportasi darat, laut dan kereta api dan juga beberapa isu kebijakan lintas sektor. Semua kegiatan IndII dirancang untuk meningkatkan kapasitas baik di tingkat nasional maupun daerah. Dalam melaksanakan berbagai kegiatan, IndII berkoordinasi dengan lembaga donor lainnya yang juga berpartisipasi di proyek-proyek infrastruktur penting, dan mendukung kemitraan antara sektor Pemerintah dan swasta. Serangkaian kegiatan saat ini meliputi antara lain pemberian insentif dalam bentuk hibah kepada Pemerintah Daerah yang melakukan investasi di bidang infrastruktur air minum melalui perusahaan daerah setempat, memberikan bantuan teknis dalam rangka penyusunan rencana induk nasional untuk pelabuhan dan perkeretaapian, dan memformulasikan panduan dan prosedur dalam rangka manajemen kebijakan layanan publik (PSO) di sektor transportasi.
Untuk memenuhi kebutuhan air minum bagi penduduk di wilayah Jakarta dan sekitarnya di masa depan, Bappenas dan KemenPU baru-baru ini menyelenggarakan rapat koordinasi dengan para pemangku kepentingan. Rapat difokuskan pada pertimbangan secara teknis, keuangan dan hukum dalam proyek saluran pipa Jatiluhur – Jakarta. Rapat diadakan di kantor Kementerian Koordinasi Perekonomian (Kemenko) pada tanggal 17 Januari 2012 dan dihadiri oleh para pejabat tinggi seperti Dr. Dedi S. Priatna, Deputi Menteri Sarana dan Prasarana Bappenas, Sumaryanto Widayatin, Dirjen Prasarana dan Logistik, Kementerian BUMN; Luky Eko Wuryanto, Deputi Menteri Bidang Koordinasi Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah, Kemenko. Hadir dalam rapat tersebut beberapa pejabat lain dari Kemenko, Bappenas, Kementerian Keuangan, Kementerian Pertanian, KemenPU, Pemerintah daerah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, PDAM, AusAID dan institusi terkait lainnya. IndII memberikan bantuan teknis kepada pemerintah Indonesia dalam proyek yang penting ini untuk mengatasi berbagai persoalan kompleks terkait aspek teknis, hukum dan keuangan. Para konsultan IndII menyampaikan presentasi hasil kajian mereka dalam rapat tersebut dan mendapatkan banyak catatan yang berharga. Masukan dalam rapat tersebut akan memperkaya proposal akhir yang akan diselesaikan pada akhir bulan Maret 2012.
Sebuah lokakarya diselenggarakan oleh IndII, proyek yang didanai oleh AusAID, pada tanggal 13 Desember 2011 di Hotel Nikko, Jakarta. Lokakarya tersebut merupakan forum diskusi mengenai Rencana Induk Pelabuhan Nasional (RIPN). RIPN saat ini tengah dipersiapkan oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla), Kementerian Perhubungan dengan tujuan untuk membangun sebuah sistem kepelabuhanan yang efisien, kompetitif dan responsif untuk mendukung penuh perdagangan internasional dan domestik, serta mempromosikan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan regional. Tujuan lokakarya ini adalah untuk mempresentasikan rancangan RIPN beserta temuan dari para konsultan IndII dan untuk mendapatkan masukan dari para peserta. Lokakarya ini dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan dari pemerintah, sektor swasta, lembaga donor, dan IndII. Para pembicara dalam seminar ini menekankan pentingnya Rencana Induk Pelabuhan Nasional, seperti yang disebutkan dalam kerangka MP3I (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Indonesia) mengenai pentingnya peran pelabuhan dalam rantai transportasi. Setelah presentasi dari para pembicara, para peserta mengikuti sesi tanya jawab dengan antusias.
Suksesnya pemasangan 10,750 sambungan air minum bagi masyarakat di enam wilayah di Kalimantan – Banjarmasin, Banjar, Banjar Baru, Palangka Raya, Kapuas, and Balikpapan; dan 2,200 sambungan saluran air limbah bagi masyarakat di Banjarmasin dan Balikpapan dirayakan melalui sebuah acara istimewa di Banjarmasin tanggal 4 Agustus 2011 yang lalu. Kesuksesan tersebut dimungkinkan berkat program Hibah Air Minum dan Air Limbah berbasis hasil, yang didukung kemitraan pemerintah Indonesia dan Australia bekerjasama dengan pemerintah daerah. Acara peresmian tersebut dihadiri oleh Menteri Pekerjaan Umum, Ir. Djoko Kirmanto; Direktur Jenderal AusAID, Peter Baxter; Minister Counsellor AusAID, Jacqui de Lacy; Direktur Jenderal Perimbangan Keuangan, Dr. Marwanto Harjowiryono; Direktur Perumahan dan Pemukiman Bappenas, Nugroho Tri Utomo, Gubernur Kalimantan Selatan, H.Rudy Arifin; dan Wakil Walikota Banjarmasin, Irwan Anshari. Menteri Pekerjaan Umum dan Direktur Jenderal AusAID menekankan pentingnya prasarana air minum dan air limbah bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Dalam kunjungannya ke rumah-rumah para penerima program Hibah, Dirjen AusAID mengungkapkan kegembiraannya melihat kehidupan masyarakat yang menjadi lebih baik berkat adanya program ini.
Ringkasan: Tema Prakarsa edisi Januari 2012 adalah “Transportasi Udara.” Ketujuh artikel dalam edisi ini menyinggung berbagai sisi tentang masalah yang dihadapi penerbangan sipil di Indonesia di masa kini dan di masa mendatang, terutama dengan adanya kesepakatan ASEAN Open Skies, strategi untuk meningkatkan keselamatan, kemajuan teknologi dan implikasi Manajemen Perhubungan Udara, dan infrastruktur bandara. Edisi ini juga berisi berbagai kolom seperti Pandangan Para Ahli dan Infrastruktur Dalam Angka, juga tanggapan untuk pertanyaan pembaca tentang TransJakarta Busway....
Ringkasan: Data penerbangan yang tepat dan handal sangat penting untuk memastikan safety critical system dapat berfungsi baik di udara maupun di darat. Supaya sesuai dengan standar internasional, Indonesia perlu menerapkan sistem yang kuat untuk mengumpulkan, menyusun, mengelola, dan menyebarluaskan data tersebut. Data penerbangan dibahas dalam setiap bagian dalam Rencana Induk Manajemen Lalu Lintas Udara Indonesia (ATM Master Plan). Sebagaimana tercantum dalam Rencana Induk tersebut, safety critical system semakin bergantung pada pengiriman data secara elektronik. Data tersebut harus diolah sedemikian rupa sehingga dapat –bermanfaat bagi keselamatan penerbangan dan tidak membahayakan unsur-unsurnya. Dalam hal ini, pengelolaan data adalah langkah penting pertama yang mendukung...
Ringkasan: Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk mendorong investasi swasta di sektor perkeretaapian Indonesia, sesuai kerangka UU No 23/2007 tentang Perkeretaapian, dengan mengusulkan rancangan Peraturan Menteri (Permen) dan perubahan Peraturan Pemerintah (PP No. 56/2009 dan No. 72/2009) terkait Perkeretaapian Khusus....