Prakarsa Infrastruktur Indonesia (IndII) saat ini berada pada fase kedua, yang akan berakhir pada akhir Januari 2017. Fase pertama IndII telah berakhir pada bulan Juni 2011 melalui sebuah acara rangkuman program pada acara penutupan Fase I. Klik (disini) untuk melihat tabel ringkasan kegiatan IndII fase 1 dan (disini) untuk tabel ringkasan rencana kegiatan pada fase II.

programs-transportedit

Transportasi

Ini adalah masa yang kritis bagi sektor transportasi di Indonesia.  Saat ini masalah kebijakan, strategi, pembiayaan, dan penyerahan yang akan menimbulkan dampak luas selama bertahun-tahun yang akan datang sedang diatasi.  Permintaan berkembang dengan pesat, dan terdapat sisa pasokan dalam jumlah besar yang kualitasnya memburuk.  Kemacetan lalu lintas yang semakin meluas di kota-kota dan di sepanjang koridor penting antar kota mengorbankan prospek pertumbuhan ekonomi, perdagangan, dan pendapatan yang pesat.

Dengan demikian, kegiatan sektor transportasi IndII menjangkau berbagai isu.  Penekanannya tidak hanya untuk membantu melaksanakan pekerjaan fisik secara efisien, melainkan juga membantu Pemerintah Indonesia untuk menciptakan lingkungan kebijakan dan hukum yang diperlukan, kapasitas kelembagaan, dan mekanisme pembiayaan dan penyerahan yang akan dapat memenuhi kebutuhan ekonomi selama beberapa dekade berikutnya.  Kegiatan IndII dirancang untuk memajukan konektivitas multimoda, mobilitas perkotaan, upaya pengurangan kemacetan, pelaksanaan program/proyek siklus hidup, dan keselamatan, dengan memberikan – dalam banyak hal – demonstrasi reformasi yang diperlukan        

Upaya-upaya representatif oleh IndII dalam sektor transportasi termasuk:

  • Mengartikulasikan pesan-pesan utama dalam sektor transportasi ke dalam dokumen Perencanaan Pemerintah, seperti Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, Rencana Strategis Kementerian Perhubungan dan Pekerjaan Umum, dan Rencana Induk Pelabuhan Nasional. 
  • Memberikan penjelasan mengapa diperlukan perubahan mendasar dalam strategi jalan nasional, dari yang hanya mengandalkan perbaikan dan rehabilitasi tambahan menjadi fokus pada pembangunan jaringan jangka panjang, manajemen aset siklus hidup yang optimal, dan bentuk pelaksanaan dan pemeliharaan proyek/program baru berbasis insentif, dengan memanfaatkan pembiayaan sektor swasta, apabila sesuai.   
  • Membantu merestrukturisasi sistem transportasi publik seperti TransJakarta (operator Bus Lintas Cepat Jakarta/Jakarta’s Bus Rapid Transit), menjadi badan perusahaan modern yang dapat memenuhi permintaan akan layanan secara berkelanjutan dengan harga yang wajar. 
  • Memprakarsai program inovatif Peningkatan dan Pemeliharaan Jalan Provinsi (PRIM), yang saat ini sedang dijadikan percontohan di Nusa Tenggara Barat, dengan menggunakan hibah bersyarat dari Pemerintah Pusat untuk memberikan insentif yang lebih baik terhadap pemeliharaan jalan provinsi.
  • Membantu Bappenas, Direktorat Jenderal Bina Marga, Direktorat Jenderal Perhubungan Darat, dan Polisi Lalu Lintas untuk mengatasi kebutuhan keselamatan jalan yang penting dalam konteks Rencana Umum Nasional Keselamatan yang baru-baru ini diperbaharui dengan bantuan IndII.

Prioritas IndII saat ini dalam sektor transportasi termasuk pengembangan PRIM lebih lanjut untuk melakukan ekspansi ke provinsi-provinsi berikutnya; dukungan untuk pengembangan Skema Anuitas Berbasis Kinerja; bantuan perencanaan dan penyusunan prakiraan (forecasting) untuk proyek-proyek jalan bebas hambatan dan pembaharuan jalan; dan bantuan kepada Pemerintah Daerah untuk meningkatkan penganggaran dan manajemen aset jalan rayanya; serta program-program untuk mengurangi kemacetan di perkotaan, meningkatkan keselamatan jalan raya, dan mengatasi isu-isu terkait gender dan ketidakmampuan dalam bidang transportasi di perkotaan.